Jumat, 06 April 2012

Buletin Kahfe Velvet


KAHFE VELVET
Cerdas-Ceria-Berakhlak Mulia
Salam Redaksi
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hai sahabat firdaus, Alhamdulillah ya. Kahfe Velvetbias ketemu lagi ama mahasiswa PGSD Unnes yang lumut (lucu dan imut). Gi mana kuliahnya? Semoga lancar ya. Kuliah jalan terus, ibadah juga mesti ditingkatkan ya pren. Biar selamet dunia akhirat. Pada edisi kali ini Kahfe Velvet menyajikan materi yang asik dan semoga bermanfaat. Selamat membaca.
Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hidup di Kos? Ihh Woww….
Apa jadinya bila kita hidup jauh dari ortu kita? Mungkin ngekos, tinggal di asrama, atau ngontrak rumah sendiri atau bersama orang lain. Pastinya ada lebih banyak kebebasan yang kita dapatkan di sana, di samping tantangan yang lebih besar dibanding ketika di rumah. Mau tidur terus di dalam kos dari pagi sampai malam juga gak ada yang negur, mau keluyuran sepanjang waktu juga tak ada yang ngatur. Tapi apakah seperti itu jalan yang hendak kita pilih saat tinggal di kos? Pastinya kita tak bakalan menjadi pribadi yang sukses lagi bahagia dengan gaya-gaya amburadul seperti itu. Apalagi kita kan remaja muslim yang jelas beda dengan remaja jenis yang lain.
Tetap menjadi pribadi yang baik dan shalih  kala hidup di kos-kosan sudah mesti jadi pilihan yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Tapi masalahnya, bagaimana cara untuk survive di kos-kosan? Bukankah lebih banyak teman sekos-kosan yang tak shalih dibandingkan yang shalih. Bukankah banyak remaja yang meninggalkan shalat di kos-kosan? Bukankan tak sedikit anak kos yang gaul bebas karena jauh dari orang tua. Bukankah tak sedikit jumlah remaja yang makin jauh dari ajaran Islam ketika salah pergaulan di kos-kosan. Seribu satu tawaran mengasyikan dan penuh tantangan di kehidupan anak kos.
Membalas Kebaikan Orang Tua
Allah Ta’ala mewasiatkan agar berterima kasih kepada orang tua di samping bersyukur kepada-Nya. Berbaakti kepada orang tua yaitu mendengar dan mentaati mereka dalam kebajikan. Ingatlah bahwa orang tua kita rela melakukan apa saja demi kebaikan orang tua. Seandainya ketika seorang ibu akan melahirkan bayi, sedangkan nyawanya terancam. “Ibu, anda ingin bayi anda lahir atau nyawa ibu tidak tertolong.” Tentu saja seorang ibu akan memilih rela mati demi bayi.
Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Ketika sahabat Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk Tawaf diKa’bah dan ‘ke mana saja ibu menginginkan. Orang tersebut bertanya kepada, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku seperti ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?.” Abdullah bin Umar menjawab, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.
Mutiara Hadits
Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain.”
 (HR. Ath-Thabrani)

Smash (Sms Penyemangat Isi Hati)
Kita mengeluh, “Itu gak mungkin.” Allah menjwab, “Jika Allah menghendaki sesuatu, cukup berkata –Jadi! Maka terjadilah ia.” (Yaasin : 82).
Kita mengeluh, “Saya terlalu lelah.” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (An-Naba’ : 9).
Kita mengeluh, “Saya tak mampu.” Allah menjawab, “Allah membebankan sesuatu pada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Al-Baqarah : 286)
Kita mengeluh, “Saya stress.” Allah menjawab, “Hanya dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d : 28)
Kita mengeluh, “Tak ada gunanya.” Allah menjawab, “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat kebaikannya.” (Az-Zalzalah : 7)
Mengembangnya alam semesta.
 “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”.
Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
Tokoh Muslim : Abdurrahman Bin Auf
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta ke¬mudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.
Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.
Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, “Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdur¬rahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.”
Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar